Saksi dari Money Changer Dicecar Jaksa soal Transaksi Valas Menantu Nurhadi

Sudah Ada 8 Permohonan Sengketa Hasil Pilkada 2020 di MK
December 18, 2020
Bareskrim Surati Dewan Pers soal Status Wartawan Edy Mulyadi
December 18, 2020

Saksi dari Money Changer Dicecar Jaksa soal Transaksi Valas Menantu Nurhadi

Jakarta – Jaksa KPK menelusuri aliran uang ke rekening Rezky Herbiyono melalui saksi-saksi dari perusahaan penukaran uang atau money changer. Rezky merupakan menantu dari Nurhadi yang didakwa menerima suap dan gratifikasi semasa menjabat sebagai Sekretaris Mahkamah Agung (MA).
Saksi yang dihadirkan bernama Windy Adila yang merupakan mantan karyawan di bagian marketing dari perusahaan penukaran uang di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Windy mengaku memiliki seorang nasabah bernama Yoga Dwi Hartiar sekitar tahun 2016 yang sering bertransaksi valas yang kisarannya dari Rp 100 juta hingga Rp 500 juta.

“Dia (Yoga) kalau nukar kadang rupiah ke dolar, kadang dolar ke rupiah. Kalau valas kita ambil ke tempatnya, kalau rupiah kita kasih transfer dan cash, kita antar melalui kurir aja, makanya dia jarang datang,” kata Windy saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (18/12/2020).

Untuk transaksi yang melalui kurir, Windy menyebutkan alamat yang kerap disambangi yaitu di Jalan Hang Lekir dan Apartemen Botanica. Dalam transaksi itu pun, menurut Windy, kurir yang mengantarkan jarang bertemu langsung dengan Yoga.

“Kalau saya tanya ke kurir, keseringan dengan orangnya Pak Yoga saja, jarang (bertemu langsung) sama Pak Yoga,” ucap Windy.

Lantas, jaksa menanyakan perihal transaksi yang sifatnya transfer. Windy mengaku tidak terlalu ingat mengenai detail nomor rekening tetapi saat proses penyidikan di KPK sempat disebutkan nama Rezky Herbiyono yang familiar di telinganya.

“Saudara terangkan ada sebagian ditransfer. Ini masih ingat transfer ke siapa saja?” tanya jaksa KPK.

“Tidak ingat Pak tapi ketika di penyidikan, setelah saya dengar nama Rezky familiar buat saya, tapi memang pernah nama Rezky ini pernah saya transfer, nggak terlalu sering hanya sekali atau dua kali,” jawab Windy.

Setelahnya jaksa membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Windy berkaitan dengan transaksi keuangan dari perusahaan penukaran uang di mana Windy pernah bekerja ke rekening Yoga dan diteruskan ke Rezky. Berikut rinciannya:

A. Tanggal 18 April 2016 pengiriman kliring otomatis dari rekening PT Sly Danamas ke rekening OCBC NISP atas nama Rezky Herbiyono transfer besarannya Rp 1 miliar;
B. Tanggal 16 Maret 2017 penukaran dari rekening Rezky Herbiyono ke rekening PT Sly Danamas ditukar ke Singapura dolar; dan
C. Tanggal 6 April 2017 ada pengiriman dari Rezky Herbiyono terkait penukaran.

Windy mengamini isi BAP yang merupakan keterangannya itu saat pemeriksaan di KPK. Windy mengaku mengirimkan uang ke Rezky atas perintah Yoga. Selain itu, Windy juga mengaku pernah berkomunikasi setidaknya dua kali dengan Rezky, salah satunya ketika kurir mengantarkan uang yang ditukar Yoga sebanyak Rp 604 juta.

“BAP 29 perlu saya sampaikan bahwa saya tidak kenal, namun mengetahui bahwa laki-laki yang berada di gambar tersebut bernama Rezky, karena saya pernah lihat display picture atau gambar tampilan WA dari nomor yang pernah diberikan oleh Yoga Dwi Hartiar untuk dihubungi transaksi tersebut saat penjualan atau pembelian valas, jika Yoga berhalangan menerima hasil transaksi penjualan atau pembelian valas tersebut,” ucap jaksa membacakan BAP Windy.

“Seingat saya pernah 2 kali melakukan komunikasi melalui WhatsApp yang display picture-nya Rezky, yaitu satu kali saat transaksi penukaran uang valas dolar Singapura ke rupiah di Old Town White Coffee atau sebelah Sate Khas Senayan pada tahun 2016 sebesar Rp 604.825.000. Dan satu kali di Apartemen Botanica, namun saya lupa waktu transaksi valasnya. Saat itu saya sudah tidak ada lagi kontak karena saya sudah ganti nomor HP di awal 2018. Benar?” imbuh jaksa masih membacakan BAP Windy sembari menanyakannya langsung ke Windy dan dibenarkan oleh Windy.

Dalam persidangan ini Rezky duduk sebagai terdakwa bersama dengan Nurhadi. Dalam surat dakwaan disebutkan bila Yoga Dwi Hartiar memberikan uang sebesar Rp 3 miliar ke Rezky Herbiyono atas perintah Nurhadi. Uang itu didapat dari sejumlah orang yang memiliki perkara yang diurus oleh Nurhadi dan Rezky.

“Bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya tersebut, Terdakwa I memerintahkan Terdakwa II untuk menerima uang dari para pihak yang memiliki perkara di lingkungan Pengadilan baik ditingkat pertama, banding, kasasi dan peninjauan kembali tersebut secara bertahap sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 di antaranya dari Handoko Sutjitro, Renny Susetyo Wardani, Donny Gunawan, Freddy Setiawan, dan Riadi Waluyo yang diterima dengan menggunakan rekening atas nama Rezky Herbiyono (Terdakwa II), Calvin Pratama, Soepriyo Waskito Adi, Yoga Dwi Hartiar, dan H Rahmat Santoso yang seluruhnya berjumlah Rp 37.287.000.000,00,” demikian tertulis dalam surat dakwaan.

“Rekening BCA nomor 07880145082 atas nama Yoga Dwi Hartiar pada tanggal 17 Maret 2016 sebesar Rp 500 juta dan pada tanggal 31 Maret 2016 sebesar Rp 3 miliar,” tambahnya.

Dalam kasus ini, Nurhadi didakwa dan Rezky menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.