Selasa, Polisi Akan Periksa 8 Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejagung

Bukan 1 November, KSPI Pastikan Akan Demo Besar-besaran 2 November 2020
Tiga Pekan sejak Pengesahan, Naskah UU Cipta Kerja Terus Berubah dan Belum Bisa Diakses

Selasa, Polisi Akan Periksa 8 Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejagung

Jakarta – Penyidik gabungan menjadwalkan pemeriksaan terhadap delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung pada Selasa (27/10/2020). Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Ferdy Sambo mengungkapkan, pemeriksaan akan dilakukan di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan. “Rencana delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Kejagung dipanggil dan akan diperiksa hari Selasa 27 Oktober pukul 10.00 oleh tim penyidik gabungan Dittipidum Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Metro Jakarta Selatan,” ucap Ferdy, Senin (26/10/2020).

Saat ini, meski berstatus tersangka, delapan orang tersebut belum ditahan oleh penyidik. Dari delapan tersangka, lima orang di antaranya berprofesi sebagai tukang dengan inisial T, H, S, K, dan IS. Saat kejadian, mereka sedang melakukan kegiatan renovasi di aula biro kepegawaian di lantai 6 gedung tersebut yang menjadi lokasi sumber api. Menurut polisi, para tukang itu membuang puntung rokok sembarangan hingga menyebabkan kebakaran. Mereka merokok meski terdapat bahan-bahan mudah terbakar di ruangan tempat mereka bekerja. Kemudian, polisi juga menetapkan mandor para tukang tersebut yang berinisial UAM sebagai tersangka. Sebab, mandor itu seharusnya mengawasi para tukang bekerja. Dua tersangka lainnya yakni, Direktur Utama PT APM berinisial R dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Kejagung dengan inisial NH.

Adapun R selaku direktur utama perusahaan penjual cairan pembersih merek TOP Cleaner. Sementara, NH selaku pejabat Kejagung yang menandatangani perjanjian pengadaan pembersih itu. Menurut polisi, pembersih TOP Cleaner yang digunakan di Gedung Kejagung menjadi akselerator atau mempercepat penjalaran api. Penyidik juga menemukan bahwa pembersih tersebut tidak memiliki izin edar. Dalam kasus ini, polisi mengaku tidak menemukan unsur kesengajaan. Para tersangka dinilai lalai sehingga menyebabkan kebakaran terjadi. Kedelapan tersangka dikenakan Pasal 188 KUHP jo Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman hukumannya 5 tahun penjara.