Ditangkap KPK, rumah penyuap Kajari Lombok Tengah sepi

Kendarai Truk Sampah, Jokowi Bikin Kaget
Gubernur Atut Tersangka, Bona Paputungan Promo “Masih Korupsi”

Ditangkap KPK, rumah penyuap Kajari Lombok Tengah sepi

Ditangkap KPK, rumah penyuap Kajari Lombok Tengah sepi

Tersangka kasus suap, Kajari Praya tak akan terima gaji Tersangka kasus suap, Kajari Praya tak akan terima gaji
Pengusaha yang nyuap Kajari Praya nangis saat ditangkap KPK
Tangkap Kajari Praya Lombok Tengah, KPK amankan USD 16.400

Merdeka.com – Rumah pengusaha wanita Lusita Ani Razak di Jalan Haji Sholeh 1 A No. 31 RT 07/RW Kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, terlihat sepi. Lusita ditangkap KPK karena menyuap Kajari Praya, Lombok Tengah, Subri.

Pantauan merdeka.com, tidak ada kegiatan yang mencolok dari rumah berlantai tiga itu. Di dalam rumah berpagar tinggi tampak terparkir dua mobil milik pengusaha lulusan Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran itu. Satu mobil jenis SUV dan satu jenis sedan.

Ketua RT 07, Hakim mengatakan, petugas KPK datang dengan menggunakan tiga mobil, tiba ke rumah LAR pada Senin (16/12) sekitar pukul 00.15 WIB. Pada saat melakukan pemeriksaan, Hakim dan ketua RW 03, Nurdin Idris ikut serta sebagai saksi.

“Saya juga menandatangani surat sebagai saksi,” kata Hakim saat ditemui di rumahnya, Senin (16/12).

Hakim menjelaskan, dalam pemeriksaan yang berlangsung lebih dari empat jam itu, petugas KPK yang berjumlah 16 orang itu membawa sejumlah berkas. “Petugas KPK cuma bawa kaya kwitansi, dan surat langganan koran,” ujar dia.

Dalam pemeriksaan itu, lanjut Hakim, tidak ada perlawanan dari keluarga Lusita. Pada saat pemeriksaan, di rumah ada suami, dua anak laki-laki Lusita, dan seorang menantunya.

Lusita merupakan pengusaha asal Jakarta. Dia diduga menyuap Subri terkait penanganan perkara pemalsuan dokumen sertifikat tanah di Kabupaten Lombok Tengah. Di lokasi kejadian, turut diamankan uang dollar Amerika dengan pecahan USD 100. Kemudian juga terdapat uang pecahan 100 ribu senilai Rp 23 juta.

“USD pecahan 100 USD ada 164 lembar, dengan total USD 16.400 setara dengan Rp 190 juta. Dan lembaran rupiah bentuk ratusan, totalnya Rp 23 juta,” papar Bambang.

Keduanya kemudian ditetapkan tersangka oleh KPK dan akan langsung ditahan. “LAR dkk disangkakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU No. 13 Tahun 1999 sebagaimana yang diubah UU No. 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,” jelas Bambang.

“SUB dkk diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 ayat 2 Pasal 11 UU No. 13 Tahun 1999 sebagaimana yang diubah UU No. 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,” ujarnya lagi.

KPK menduga Lusita dan Subri tidak bermain sendiri. “Diduga LAR dan SUB tidak sendiri, maka kami sebut LAR dkk, SUB dkk,” jelas Bambang.
[did]

Sumber : Merdeka.com