Sri Mulyani: Saya Bisa Mati Berdiri…

Sudah Divonis Terbukti Korupsi, Masih Jabat Kadis PU
Gagasan Pendidikan Murah oleh KETUM LP2I TIPIKOR

Sri Mulyani: Saya Bisa Mati Berdiri…

08140620000-a-aasrimul780x390 (1)

Sri Mulyani saat masih menjabat Menteri Keuangan, seusai menghadiri rapat pimpinan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (21/5/2010)

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku kaget saat angka penyelamatan Bank Century dengan penyertaan modal sementara (PMS) terus meningkat atau berubah-ubah. Hal itu karena capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal Bank Century juga berubah.

“Saya bisa mati berdiri kalau angkanya berubah-ubah,” kata Sri Mulyani saat bersaksi untuk dalam sidang kasus dugaan korupsi Bank Century dengan terdakwa mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Mulanya, setelah Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik ditentukan PMS sebesar Rp 632 miliar. Namun, CAR yang mulanya negatif 3,53 persen berubah menjadi negatif 35,92 persen. PMS yang dibutuhkan pun menjadi Rp 4,6 triliun.

Sri Mulyani selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengaku khawatir karena menurut BI ada sekitar 18 bank yang juga mengalami permasalahan likuiditas. Lima di antaranya memiliki permasalahan yang mirip dengan Bank Century.

“Muncul kekhawatiran saya karena ada bank yang situasinya mirip Bank Century. Menghadapi satu saja begini, bagaimana dengan yang lain?” katanya.

Penyetoran dana PMS dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mulai 24 November 2008. Hingga tanggal 24 Juli 2009, PMS yang diberikan seluruhnya Rp 6,762 triliun. Adapun penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik diputuskan dalam rapat KSSK pada 21 November 2008 pagi hari. Setelah itu, Bank Century diambil alih oleh LPS.

Sebelum keputusan itu, pada rapat pra-KSSK tanggal 20 November 2008, Ketua Dewan Komisioner LPS Rudjito telah menyampaikan bahwa dalam keadaan normal seharusnya Bank Century tidak dikategorikan sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Pernyataan itu didukung oleh Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu yang menyampaikan bahwa analisis risiko sistemik yang diberikan BI belum didukung data yang cukup dan terukur untuk menyatakan Bank Century menimbulkan risiko sistemik.

Selain itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany mengatakan bahwa Bank Century secara finansial adalah bank kecil sehingga tidak akan menimbulkan risiko yang signifikan terhadap bank lain.

Agus Martowardojo yang saat ini menjabat Gubernur BI pun telah menyampaikan kepada Sri Mulyani agar berhati-hati mengambil keputusan tersebut dengan informasi terbatas karena akan ditunggu oleh masyarakat. Namun, akhirnya Bank Century tetap dinyatakan sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Adapun dalam kasus dugaan korupsi ini, negara diduga mengalami kerugian sebesar Rp 689,394 miliar terkait pemberian FPJP dan Rp 6,762 triliun dalam penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Sumber : nasional.kompas.com